-->
Sagara Update

SAGARAUPDATE.COM adalah portal berita modern yang menyajikan informasi aktual dan terpercaya seputar peristiwa lokal hingga nasional. Selain menghadirkan konten berita, SAGARAUPDATE.COM juga menyediakan layanan podcast inspiratif, Event Organizer (EO) profesional, serta penyelenggaraan seminar media yang edukatif dan berkualitas. Menjadi pusat informasi dan kreativitas, SAGARAUPDATE.COM berkomitmen mendukung perkembangan dunia jurnalistik, edukasi, dan industri kreatif.

  • Jelajahi

    Copyright © Sagara Update
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Techonlogy

    Tangis Haru Sambut Kepulangan Yulianti, PMI Asal Sukabumi Terdampak Konflik Timur Tengah Akhirnya Pulang ke Tanah Air

    Jumat, 31 Juli 2026, Juli 31, 2026 WIB Last Updated 2026-07-31T04:52:57Z

     


    SAGARAUPADATE – Penantian panjang keluarga Yulianti (40), Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Desa Gandasoli, Kabupaten Sukabumi, akhirnya berakhir. Setelah mengalami trauma dan cedera akibat dampak konflik geopolitik di Timur Tengah, Yulianti tiba di Tanah Air dan disambut haru oleh keluarganya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Kamis (30/7/2026).


    Kedatangan Yulianti menjadi momen emosional setelah berbulan-bulan berjuang untuk bisa kembali ke Indonesia. Ibu tiga anak itu diketahui mengalami kecelakaan di rumah majikannya di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), usai panik mendengar ledakan rudal saat memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran pada Mei 2026.


    Setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, Yulianti langsung didampingi petugas Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) untuk dipertemukan dengan keluarganya yang telah menunggu sejak siang.


    "Jadwal kepulangannya menggunakan pesawat QR 9651 dan tiba sekitar pukul 15.35 WIB," ujar Petugas Lounge KP2MI Bandara Soekarno-Hatta, Agus Setiawan, Kamis (30/7/2026).


    Agus menjelaskan, proses pemulangan Yulianti dimulai setelah suaminya, Firman, melaporkan kasus tersebut ke Direktorat Pelindungan Warga Negara Indonesia (PWNI) Kementerian Luar Negeri pada pertengahan Juli 2026.


    "Laporan itu kemudian diteruskan kepada KJRI Dubai sehingga dilakukan pendampingan dan proses mediasi dengan pihak agensi serta majikan," katanya.


    Namun proses tersebut tidak berjalan mudah. Menurut Agus, pihak agensi sempat mensyaratkan agar Yulianti harus mencari pengganti sebelum diizinkan pulang ke Indonesia. Selain itu, selama bekerja di Dubai, Yulianti tercatat telah berpindah majikan sebanyak empat kali.


    "Proses mediasi berlangsung cukup lama karena pihak agensi meminta adanya pengganti pekerja sebelum Yulianti dipulangkan," ujarnya.


    Agus juga mengungkapkan keberangkatan Yulianti ke Timur Tengah pada September 2025 diduga tidak melalui prosedur resmi. Pasalnya, hingga kini Pemerintah Indonesia masih memberlakukan moratorium penempatan pekerja migran sektor domestik ke negara-negara Timur Tengah.


    "Penempatan pekerja ke negara-negara Timur Tengah masih dimoratorium sejak 2015 hingga sekarang," tegasnya.


    Sementara itu, Pembina Rumah Sahabat Ibu dan Anak (Rusaida), Yuyu Marliah, yang mendampingi kasus Yulianti sebagai korban dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), mengaku bersyukur atas kepulangan Yulianti yang bertepatan dengan Hari Anti Perdagangan Orang Sedunia.


    Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proses pemulangan, mulai dari Kementerian P2MI, Kementerian Luar Negeri, BP3MI, Pusat Layanan Pekerja Migran Sukabumi hingga Polres Sukabumi.


    "Kami mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Kementerian P2MI, khususnya Direktur Layanan Pengaduan Perseorangan Bapak Firman Yulianto, kepada Kementerian Luar Negeri, khususnya Duta Besar Judha Nugraha, BP3MI, Pusat Layanan Pekerja Migran Sukabumi, dan Polres Sukabumi yang telah membantu proses penanganan kasus Yulianti," ujar Yuyu.


    Meski telah berhasil dipulangkan, menurut Yuyu, perjuangan belum selesai. Ia menilai Yulianti membutuhkan pemulihan psikososial akibat trauma yang dialaminya setelah terdampak konflik bersenjata di Timur Tengah.


    "Kami berharap pemerintah memberikan pendampingan psikososial karena Yulianti mengalami trauma berat akibat konflik geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat. Ledakan-ledakan yang terjadi membuatnya mengalami kecelakaan, cedera, dan tekanan mental yang serius," katanya.


    Selain pemulihan mental, Yuyu juga menekankan pentingnya pemberdayaan ekonomi agar Yulianti dapat kembali menjalani kehidupan secara mandiri bersama keluarganya.


    "Reintegrasi sosial harus dibarengi dengan pemberdayaan ekonomi sesuai potensi yang dimiliki keluarga. Jika memiliki potensi di bidang pertanian, maka harus didorong agar bisa menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan," ujarnya.


    Di akhir keterangannya, Yuyu meminta pemerintah memperketat pengawasan terhadap praktik pemberangkatan pekerja migran secara ilegal ke 19 negara Timur Tengah yang hingga kini masih diberlakukan moratorium.


    "Ternyata di tengah moratorium yang masih berlaku, pengiriman pekerja rumah tangga ke negara-negara Timur Tengah masih terus terjadi. Ini menjadi pekerjaan besar pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan untuk benar-benar memutus rantai perdagangan orang agar tidak ada lagi korban seperti Yulianti," pungkasnya.(***)



    Komentar

    Tampilkan

    Terkini