| Alih-alih membawa berkah di awal Ramadan, menu MBG di Kota Sukabumi justru memicu polemik. Orang tua murid menyuarakan kekecewaan dan meminta evaluasi menyeluruh. |
SAGARAUPDATE.COM | KOTA SUKABUMI – Memasuki awal Ramadan 1447 H, pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Sukabumi justru menuai polemik. Program yang diinisiasi pemerintah dan dikoordinasikan oleh Badan Gizi Nasional ini mendapat sorotan tajam dari sejumlah orang tua murid setelah menu yang dibagikan pada hari pertama sekolah dinilai tidak memenuhi ekspektasi gizi.
Keriuhan bermula dari unggahan warganet di Facebook yang memperlihatkan paket MBG berisi bubur sumsum, potongan singkong, serta empat butir kurma. Menu tersebut diklaim sebagai jatah untuk siswa di salah satu sekolah di Kota Sukabumi selama Ramadan. Unggahan itu dengan cepat menyebar dan memicu beragam reaksi.
Salah satu orang tua murid menyampaikan kekecewaannya karena ketiga anaknya menerima menu serupa. Dalam unggahannya, ia mempertanyakan kelayakan paket tersebut untuk disebut sebagai makanan bergizi. Nada serupa juga bermunculan di kolom komentar sejumlah grup warga Sukabumi.
Tak hanya jenis makanan, persoalan kandungan gizi menjadi sorotan utama. Sejumlah orang tua menilai komposisi menu kurang mencerminkan prinsip gizi seimbang, terutama dari sisi asupan protein dan variasi nutrisi yang dibutuhkan anak usia sekolah. Padahal, MBG digagas untuk mendukung pertumbuhan dan kesehatan peserta didik, termasuk selama menjalankan ibadah puasa.
Di sejumlah titik, distribusi menu juga dilaporkan dilakukan sekaligus untuk dua hingga tiga hari. Praktik tersebut dinilai sebagian warganet memperkeruh polemik, terlebih jika komposisi yang diterima dianggap tidak sesuai dengan spesifikasi yang selama ini disosialisasikan.
Kritik tajam pun bermunculan. Ada warganet yang mendesak agar protes disampaikan langsung kepada pihak pelaksana Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) guna memastikan kesesuaian bahan dan standar menu. Sebagian lainnya meminta agar ahli gizi di tiap SPPG memaparkan secara terbuka kandungan dan persentase kecukupan gizi dari setiap paket yang dibagikan, sebagai bentuk transparansi kepada publik.
Tak sedikit pula komentar bernada sarkastis yang menyinggung efisiensi anggaran dan kualitas bahan. Polemik ini berkembang menjadi diskursus yang lebih luas tentang pengawasan, akuntabilitas, serta keterbukaan informasi dalam pelaksanaan program strategis tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak SPPG maupun instansi terkait di Kota Sukabumi terkait polemik menu MBG Ramadan yang beredar di media sosial. Masyarakat kini menantikan klarifikasi dan evaluasi menyeluruh agar program yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak bangsa benar-benar berjalan sesuai standar dan tidak menimbulkan kekecewaan di lapangan. (Jul)