![]() |
| Ilustrasi By Sagaraupdate.con |
SUKABUMI — Permasalahan desa di Indonesia sepanjang tahun 2025 masih didominasi oleh keterbatasan sumber daya manusia (SDM), optimalisasi pengelolaan dana desa, serta ketimpangan pembangunan infrastruktur. Kondisi tersebut turut dirasakan di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Sukabumi, yang menghadapi tantangan tambahan berupa kerusakan infrastruktur jalan dan tingginya kerentanan terhadap bencana alam.
Berdasarkan penelusuran dan analisis Sagaraupdate.com, sebagian besar persoalan desa berakar pada lemahnya kapasitas aparatur desa dalam perencanaan, pengelolaan anggaran, serta pemanfaatan potensi lokal secara berkelanjutan. Keterbatasan SDM berdampak langsung pada belum optimalnya pelayanan publik, administrasi pemerintahan desa, hingga dokumentasi regulasi desa yang masih tidak tertata dengan baik.
Pada aspek pengelolaan dana desa, hasil analisis Sagaraupdate.com menunjukkan bahwa masih terdapat kesenjangan antara perencanaan dan realisasi program di lapangan. Pemerintah daerah dihadapkan pada tantangan pengawasan agar dana desa benar-benar dimanfaatkan untuk pengentasan kemiskinan, penguatan ketahanan pangan, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat desa, bukan sekadar memenuhi aspek administratif.
Transformasi digital desa yang digalakkan pemerintah pusat juga belum berjalan merata. Penelusuran Sagaraupdate.com menemukan bahwa keterbatasan akses internet, rendahnya literasi digital, serta minimnya pelatihan aparatur desa menjadi hambatan utama penerapan layanan digital di tingkat desa. Akibatnya, digitalisasi belum sepenuhnya mampu meningkatkan efisiensi dan transparansi pelayanan publik desa.
Masalah ketimpangan ekonomi desa masih menjadi tantangan struktural. Rendahnya daya saing ekonomi masyarakat desa dan ketergantungan pada sektor pertanian tradisional dinilai membatasi ruang inovasi dan pengembangan usaha berbasis potensi lokal.
Temuan di Wilayah Sukabumi
Khusus di Sukabumi, hasil penelusuran Sagaraupdate.com menunjukkan kerusakan infrastruktur jalan sebagai persoalan paling dirasakan masyarakat desa. Sekitar 35 persen ruas jalan di wilayah Kabupaten Sukabumi tercatat dalam kondisi rusak berat. Kondisi ini tidak hanya menghambat mobilitas warga, tetapi juga berdampak langsung pada distribusi hasil pertanian, akses pendidikan, dan layanan kesehatan.
Selain itu, Sukabumi masih tergolong daerah rawan bencana. Sepanjang tahun 2025, berbagai kejadian bencana alam seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang kerap terjadi. Analisis Sagaraupdate.com menemukan bahwa buruknya sistem drainase dan maraknya alih fungsi lahan memperparah risiko bencana, terutama di kawasan perdesaan dan wilayah perbukitan.
Permasalahan lingkungan turut menjadi sorotan setelah ditemukannya aktivitas penambangan emas ilegal di sejumlah wilayah Sukabumi. Berdasarkan penelusuran lapangan, aktivitas tersebut berpotensi merusak lingkungan, mencemari sumber air, serta mengancam keberlangsungan ruang hidup petani dan masyarakat desa.
Di sisi lain, eksistensi Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDesma) belum sepenuhnya mampu menjadi motor penggerak perekonomian desa. Hasil analisis Sagaraupdate.com mencatat lemahnya manajemen, kurangnya profesionalisme, serta minimnya pendampingan menjadi hambatan utama optimalisasi BUMDesma.
Aspek sosial dan keamanan juga tidak luput dari perhatian. Penelusuran Sagaraupdate.com menemukan sejumlah kasus konflik sosial dan aksi kekerasan yang terjadi di tingkat lokal, mencerminkan perlunya penguatan nilai toleransi, peran tokoh masyarakat, serta penegakan hukum yang konsisten.
Sejumlah persoalan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak dapat berjalan parsial. Dibutuhkan sinergi lintas sektor antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pemerintah desa, serta masyarakat untuk memperkuat SDM, memperbaiki tata kelola dana desa, membangun infrastruktur berkeadilan, serta menjaga kelestarian lingkungan demi keberlanjutan pembangunan desa, khususnya di Sukabumi.
Editor: Redaksi Sagaraupdate.com

