SAGARAUPDATE.COM | SUKABUMI – Sebuah video berdurasi sekitar 30 detik yang memperlihatkan seorang siswi Madrasah Ibtidaiyah (MI) Cirumput, Desa Salaawi, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, mengalami luka pada bagian jari tangannya, beredar luas di media sosial.
Peristiwa tersebut dilaporkan terjadi pada Senin pagi (6/4/2026) sekitar pukul 09.00 WIB, saat kegiatan pembagian makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lingkungan sekolah. Hingga kini, pihak-pihak terkait masih melakukan evaluasi untuk memastikan kronologi serta penyebab pasti dari kejadian tersebut.
Kepala MI Cirumput, M. Ruslan Fahrul, menjelaskan bahwa pihak sekolah segera melakukan penanganan setelah menerima laporan adanya siswi yang mengalami luka.
“Begitu menerima laporan, kami langsung melakukan penanganan terhadap siswa yang bersangkutan. Adapun video yang beredar awalnya dibuat untuk keperluan pelaporan internal kepada pihak dapur, karena luka pada bagian jari saat itu cukup mengeluarkan darah,” ujar Ruslan kepada wartawan, Selasa (7/4/2026).
Menurut keterangan pihak sekolah, kejadian tersebut terjadi saat proses pembagian makanan berlangsung. Madrasah juga mengungkapkan bahwa sebelumnya pernah terjadi beberapa kejadian serupa yang bersifat ringan dan telah ditangani secara internal.
Meski demikian, pihak sekolah menegaskan bahwa seluruh informasi yang beredar masih dalam tahap klarifikasi bersama, termasuk dengan pihak penyedia layanan makanan. Evaluasi dilakukan guna memastikan penyebab kejadian serta memperkuat langkah pencegahan agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi.
Ruslan juga mengakui sempat terjadi kesalahpahaman komunikasi antara pihak sekolah dan orang tua siswa pada awal kejadian. Hal tersebut dipicu oleh keterbatasan informasi yang diterima secara bersamaan.
“Kami memahami reaksi orang tua. Kami juga telah menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Pada prinsipnya, tidak ada pihak yang menginginkan kejadian seperti ini,” katanya.
Ia menegaskan, pihak sekolah berkomitmen untuk meningkatkan koordinasi dan pengawasan dalam pelaksanaan program MBG agar berjalan lebih aman dan optimal bagi para siswa.
Sementara itu, orang tua siswi, Ujang Roji (47), menyampaikan bahwa pihak keluarga telah melakukan komunikasi dengan pihak sekolah maupun penyedia layanan makanan. Ia menyebut peristiwa tersebut sebagai musibah yang tidak diharapkan.
“Sebagai orang tua tentu kami sempat terkejut. Namun setelah ada penjelasan dan komunikasi, kami memahami situasinya,” ujarnya.
Ujang juga mengapresiasi respons cepat dari pihak sekolah serta tim dapur yang datang langsung untuk memberikan penjelasan kepada keluarga.
Saat ini, pihak keluarga memilih menyelesaikan persoalan tersebut secara kekeluargaan dan berharap komunikasi antar pihak dapat semakin baik di masa mendatang.
Di sisi lain, Kepala SPPG Pasirhalang 2, Faisal Septian, menyatakan bahwa pihaknya baru menerima informasi terkait kejadian tersebut setelah laporan disampaikan oleh pihak sekolah.
“Kami segera merespons dengan menyampaikan permohonan maaf serta menawarkan bantuan. Saat itu disampaikan bahwa penanganan medis sudah dilakukan,” kata Faisal.
Ia menambahkan, pihaknya masih melakukan penelusuran lebih lanjut terkait kronologi kejadian, termasuk klarifikasi atas berbagai informasi yang beredar di masyarakat. Menurutnya, hingga saat ini pihak SPPG belum menerima laporan sebelumnya terkait keluhan serupa.
“Meski demikian, setiap kejadian akan menjadi bahan evaluasi penting bagi peningkatan layanan,” tegasnya.
Sebagai langkah pencegahan ke depan, pihak SPPG berkomitmen memperketat proses pengecekan kelayakan wadah makanan sebelum didistribusikan kepada siswa.
“Kami akan meningkatkan pengawasan agar seluruh perlengkapan yang digunakan benar-benar aman bagi siswa. Ini menjadi perhatian serius bagi kami,” pungkasnya. (***)
